' Tradisi Samping Jangkung Sudah Lama Ditinggalkan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Tradisi Samping Jangkung Sudah Lama Ditinggalkan

Tradisi Samping Jangkung Sudah Lama Ditinggalkan

Written By dodi on Monday, June 25, 2012 | 8:00 AM

Samping Jangkung Gelung Jucung dan Tampi Iket Festival, yang digelar Pemkab Purwakarta dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten ke 44 dan Hari Jadi Purwakarta ke 181 yang dilaksanakan di halaman gedung Kembar Nakula Sadewa di Jalan Kolonel Kornel Singawinata, menjadi pusat perhatian warga masyarakat Sabtu (23/6) malam kemarin.

Samping jangkung gelung jucung dan tampi iket yang memiliki makna luas, merupakan satu tradisi yang sudah lama ditinggalkan. Samping jangkung merupakan tradisi yang sering digunakan oleh orang tua (ibu-ibu-Red) dulu yang memiliki aktifitas tinggi dalam keseharaiannya. Sehingga samping janggung melambangkan keterampilan dan kegesitan seorang perempuan di Jawa Barat.

Berbicara samping jangkung, ibu kita dulu suka memakai pakaian atasan berukat dan kebawahannya kain/samping jangkung yang berlambang bahwa para tokoh Sunda, ibu-ibu Sunda memiliki aktifitas tinggi dan sering berjalan dengan langkah yang cepat dan panjang sebagai seorang istri yang memiliki keberanian dan berani menghadapi perubahan.

Sedangkan Gelung Jucung, merupakan suatu lambang bahwa ibu-ibu di tatar Sunda  dalam menata rambutnya sangat kuat, karena rambutnya diikat ke atas. Ikatan rambut ke atas itu menandakan, bahwa ibu-ibu tersebut sebagai pekerja keras dalam berbagai pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum perempuan.

Sehingga, jika saat ini berbicara tentang gender, tokoh-tokoh perempuan Sunda sejak dulu sudah melakukannya. Sementara tampi melambangkan seorang laki-laki pekerja keras yang sering melakukan perjalanan jauh yang memiliki kekuatan. Tampi artinya, celana panjang longgar (gombrang) hingga dibawah lutut.

Dengan demikian, tidak menghalangi ketika beraktifitas seperti lari, memanjat pohon maupun aktifitas lainnya, karena menggunakan celana pangsi. Sedangkan pakaian kampret juga melambangkan iklim di Jawa Barat yang terkadang panas terkadang juga dingin. Kampret juga ada dua warna yakni hitam untuk musim hujan dan kampret warna putih untuk musim kering.

Pakaian kampret juga memiliki makna kekuatan, dalam bekerja yang dilakukan baik siang maupun malam hari, baik pada musim hujan atau pada musim kering. Ikat yang digunakan dikepala melambangkan bahwa menyatukan pemikiran agar lebih focus dalam melaksanakan berbagai hal dalam mewujudkan berbagai kegiatan segala bidang.

Ikat juga melambangkan intelektuialitas yang disertai dengan  keimanan atau yang disebut insan kamil bagi bangsa Indonesia dimasa yang akan datang. Seperti juga terlambang di atas prasasti Batutulis Bogor yang bermakna apa yang kita lakukan saat ini, tentunya harus bisa dilihat dan dirasakan dimasa  mendatang.YAS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger