' Skenario Besar Copot Anas Urbaningrum - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Skenario Besar Copot Anas Urbaningrum

Skenario Besar Copot Anas Urbaningrum

Written By dodi on Thursday, June 14, 2012 | 5:01 PM

KAB.BOGOR - Aksi Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, mengumpulkan seluruh ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat se-Indonesia di kediaman pribadinya, Puri Cikeas-Gunung Putri, Kabupaten Bogor-Jawa Barat, Selasa (12/6) malam, menimbulkan banyak spekulasi publik. Ditambah lagi, dengan adanya pertemuan khusus tokoh pendiri dan deklarator Partai Demokrat di Hotel Sahid Jakarta, sehari kemudian (Rabu malam, 13/6).

Tak pelak, muncul spekulasi peristiwa itu merupakan rangkaian dari upaya menurunkan Anas Urbaningrum dari posisi Ketua Umum DPP Partai Demokrat menyusul adanya kemungkinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menjadikan Anas sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pembangunan pusat olahraga nasional Hambalang. Spekulasi ini menguat lantaran dalam pertemuan SBY-Ketua DPD, Anas tidak diundang dan dalam pertemuan di Hotel Sahid, Anas tidak datang walau diundang untuk datang.

Pakar politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Dr. JB Kristiadi, berpendapat tak diundangnya Anas dan pengurus DPP lainnya pada pertemuan di Cikeas merupakan sinyal bahwa SBY ingin mengeluarkan Anas Urbaningrum dari lingkaran kekuasaan Partai Demokrat. Hanya saja, upaya itu harus dilakukan dengan halus mengingat posisi Anas yang kuat di akar rumput partai.

"Harus dilihat juga, apakah sebelumnya sudah ada perjanjian antara Anas dan SBY agar keduanya tidak kehilangan muka. Karena memang saat ini tak ada mekanisme untuk pemecatan," katanya kepada wartawan di gedung DPR, kemarin. Menurut dia, apa yang diperlihatkan saat ini merupakan politik khas SBY. Yaitu, mencoba membangun basis kekuatan dengan mengatasnamakan DPD. Tujuannya, untuk mengembalikan politik etis karena orang yang ingin disingkirkan bukan orang sembarangan.

Anas, katanya, selain memiliki kekuatan di akar rumput juga memiliki kekuatan jaringan politik yang kuat. Ini mengingat posisinya sebagai mantan ketua PB HMI yang kini masuk di semua jaringan politik. "Makanya, Anas tidak akan rela kalau bersih-bersih yang dilakukan hanya untuk membuang dirinya saja. Kalau memang harus bersih-bersih, harus semua." Karenanya, Kristiadi mendorong agar SBY dapat bertindak tegas dan melakukan langkah bersih-bersih tanpa memandang bulu. Siapa pun yang terlibat, maka harus dibersihkan.

Kristiadi melihat ini sebagai langkah yang harus dilakukan SBY saat ini. Meskipun saat ini bisa saja langkah itu menurunkan elektabilitas Demokrat di masyarakat. Namun, bisa menjadi kekuatan untuk pemilu mendatang. "Ini menjadi obat pahit bagi SBY dan Demokrat. Yaitu, pahit diminum untuk saat ini tapi bisa memberikan berkah yang lebih besar. Jadi bisa saja kalah di 2014, tapi lebih baik di pemilu mendatang," ujarnya.

Sementara itu, analis politik pada Lembaga Pengkajian Pembangunan Daerah (LPPD) Dr.Freddy PH Pasaribu, menilai dua peristiwa tersebut merupakan rangkaian dari sebuah skenario besar untuk menyelamatkan Demokrat dari keterpurukan pasca kasus wisma atlet Sea Games di Palembang yang menyeret mantan Bendahara DPP Demokrat Nazaruddin, Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng dan sejumlah tokoh penting di partai yang berslogan anti korupsi tersebut.

"Yang saya lihat sekarang ini, SBY tengah melaksanakan upaya pembersihan partai dengan cara yang sangat hati-hati. Saya yakin bahwa ini akan berujung pada perubahan di kepengurusan DPP. Apalagi, informasinya sudah kencang, yaitu Anas akan ditetapkan menjadi tersangka kasus Hambalang oleh KPK dalam waktu dekat ini. SBY sangat paham soal ini, dia tak mau partai yang dibidaninya itu karam. Itu membahayakan rencana besarnya menjadikan Ibas Yudhoyono sebagai tokoh politik nasional di masa mendatang," ujar Freddy kepada LINGKAR JABAR.

Terkait dengan pertemuan di Cikeas, Ketua DPD Demokrat Jawa Barat, Iwan Ridwan Sulandjana mengatakan, seluruh ketua DPD Demokrat se-Indonesia sepakat agar permasalahan yang ada di partai diselesaikan secara internal. "Intinya DPD meminta agar ketua Dewan Pembina segera menyelesaikan kemelut yang sedang menimpa partai agar mampu bangkit lagi di pemilu 2014 mendatang," ujar Iwan.

Bahkan dalam pemaparan di hadapan SBY, para ketua DPD memaparkan tentang merosotnya pencitraan partai Demokrat di daerah. "Untuk Jabar kita survei dua kota yakni, Sukabumi dan Cimahi, pencitraan partai kita anjlok jadi peringkat ketiga, yang tadinya berada di peringkat satu," jelas Iwan. Soal tidak diundangnya Anas ke Cikeas, Iwan menjawab
bahwa itu menjadi hak Ketua Dewan Pembina. "Namun jika melihat isi permasalahannya, yakni guna memberikan ruang yang lebih terbuka kepada ketua DPD, dalam memaparkan permasalahan partai di hadapan Pak SBY," imbuhnya.

Seruan SBY

Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat meminta kader partai tersebut yang terlibat kasus korupsi agar mundur secara sportif. "Daripada memalukan seluruh kader di kemudian, hari, lebih baik mundur saat ini juga. Tinggalkan partai ini," kata Susilo Bambang Bambang Yudhoyono ketika memberikan sambutan pada acara "Silaturrahin Para Tokoh Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat".

Presiden Yudhoyono mengakui, Partai Demokrat saat ini masih sering diserang sehingga popularitas dan elektabilitasnya terus menurun. Hal ini, kata dia, ada sebagian kecil kader Partai Demokrat yang melakukan perbuatan tidak terpuji. "Ini sangat melukai hati kita semua," katanya seraya mengingatkan seluruh kader Partai Demokrat agar jangan mencoba main-main, apalagi korupsi.

Kader Partai Demokrat, kata dia, jangan mau dijebak dan dibujuk untuk melakukan perbuatan tidak terpuji. "Jangan main-main dengan APBN dan APBD. Saya masih mendengar niatan untuk main-main dengan APBN dan APBD dari banyak kalangan. Cegah itu, jangan sampai terjadi," katanya seraya menegaskan, garis politik Partai Demokrat tetap tegas dan konsisten meskipun menghadapi tantangan luar biasa, yakni tetap menjalani garis politik cerdas, bersih, dan santun.

Dalam kaitan itu, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Marzuki Alie menyatakan pertemuan antara Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PD semalam tidak mengundang Ketua Umum DPP PD, Anas Urbaningrum dan juga anggota Dewan Pembina PD.  "Kemarin Pak SBY sudah berkomunikasi dengan saya, teman-teman DPP dan Anggota Dewan Pembina memang tidak diikutkan," kata Marzuki.

Ketika ditanya alasan tidak diundangnya Ketua Umum DPP PD dan anggota Dewan Pembina PD, Marzuki menyatakan, hal itu bertujuan agar semua DPD berani dan terbuka, tidak canggung dalam mengungkapkan aspirasinya.  "Ya DPD supaya berani ngomong apa yang sebenarnya terjadi. Kalau ada DPP dan anggota dewan pembina kan ada rasa sungkan, kalau gak ada kan bisa lepas dan tak canggung dalam mengajukan usul," pungkasnya. COK/BSR
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger