' Sejumlah Aliran Sungai di Cianjur Tercemar Bakteri E-Coli - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Sejumlah Aliran Sungai di Cianjur Tercemar Bakteri E-Coli

Sejumlah Aliran Sungai di Cianjur Tercemar Bakteri E-Coli

Written By dodi on Friday, June 29, 2012 | 1:13 PM

CIANJUR - Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Cianjur mengungkapkan bahwa sejumlah daerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Cianjur disinyalir tercemar bakteri Escherichia Coli (E-coli), sehingga sangat berbahaya jika airnya terus menerus dikonsumsi manusia. Ironisnya, hingga saat ini tak sedikit masyarakat yang memanfaatkan air sungai itu untuk keperluan sehari-hari.

Kepala Sub Bidang Pengawasan Pencemaran Air dan Udara pada KLH Kabupaten Cianjur, Evi Hidayah, menyebutkan berdasarkan hasil pemeriksaan di sepanjang DAS Cikundul yang juga melintasi enam aliran sungai di sekitarnya, diketahui kandungan oksigen (COD) serta biologi oksigen (BOD) sangat tinggi. Artinya, kondisi ini membuat air di Sungai Cikundul tidak layak konsumsi. "Sungai Cikundul itu mengaliri enam aliran sungai, di antaranya Cilemat, Lebak Selang, hingga Cirata. Hasil pemeriksaan, air di aliran sungai ini tidak layak dimanfaatkan," kata Evi kepada wartawan, Kamis (28/6).

Menurut Evi, lebih parahnya lagi, berdasarkan penelitian ditemukan juga adanya kandungan bakteri Escherichia Coli (E-Coli) hingga melewati ambang batas. "Dua indikasi hasil penelitian ini bisa disimpulkan bahwa air di sungai tersebut tidak layak untuk digunakan. Ironisnya, aliran sungai masih tetap dimanfaatkan warga sudah sejak lama. Kalau untuk sekadar mencuci atau mandi memang tidak terlalu berbahaya. Tapi jika sampai terminum airnya, akan sangat membahayakan," jelasnya.

Penyebab tercemarnya aliran sungai itu, kata Evi, akibat limbah dari sejumlah pabrik yang membuangnya ke aliran sungai. Kondisi ini diperparah dengan sampah masyarakat, sehingga menambah buruk kondisi air. "Kalau secara visual, kondisinya masih seperti sungai kebanyakan di Cianjur. Tapi setelah diteliti, ternyata tidak layak. Sayangnya, untuk penelitian sungai hanya bisa dilakukan satu kali karena keterbatasan anggaran. Idelanya, satu aliran sungai memerlukan tiga kali penelitian," tukas Evi.

Evi berkeinginan menyosialisasikan bahayanya mengonsumsi air sungai yang tercemar limbah. Pihakya sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan serta Dinas Tata Ruang dan Permukiman dan juga akan mengupayakan optimalisasi sosialisasi kepada masyarakat.

"Apalagi jika penelitian hanya dilakukan sekali, kita hanya mendapatkan data permukaannya saja. Makanya perlu dilengkapi dengan sosialisasi kepada masyarakat secara langsung, terutama imbauan bahaya membuang limbah ke sungai. Kita menggandeng Tarkim dan Dinkes agar bisa menyediakan sarana MCK (mandi, cuci, dan kakus). Adanya MCK setidaknya bisa meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan," pungkasnya. RUS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger