' Reog, Mungkin Reorganisasi Ogel - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Reog, Mungkin Reorganisasi Ogel

Reog, Mungkin Reorganisasi Ogel

Written By dodi on Monday, June 18, 2012 | 5:40 PM

DARIMANA asal Reog, dari istilah apa ? Semua masih belum diketahui secara pasti. Sehingga tak ada yang tahu, apakah Reog hanya ada di Priangan saja atau di daerah lain, sebagaimana Seni Reog Ponorogo? Namun, masyarakat umum mengenal secara luas seni reog tatkala TVRI menayangkan secara berkala. Atau sekitar Tahun 1967 muncul perkumpulan Reog Wanita dengan tokohnya Pak Emen dan Ibu Anah dan kemungkinan di daerah lainyapun bermunculan seni reog hanya tidak tercatat secara jelas.

Ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa istilah "reog" adalah kependekan dari Reorganisasi Ogel (kesenian ogel, lawak dan tari-tarian), adapula pendapat istilah reog itu dari keseniak Reak, ataupun pendapat lainnya, bahwa reog itu berasal dari ugal-igel (karena pemainnya menggerakan anggota tubuh untuk menari dengan tarian kocak atau sambil melucu). Konon khabarnya sejak jaman para wali kesenian ini sudah ada dan biasa dimainkan oleh para santri. Hingga tahun 1953 muncul grup reog antara lain Grup Reog Tunggal Wargi pimpinan Pa Amin Mihardja dan Grup Reog Ajendam pimpinan Pa Dase.

Sebagaimana kesenian lainnya, seni reog pun disenangi oleh masyarakat terutama masyarakat di pedesaan dan sebagian kecil masyarakat perkotaan karena mengandung unsur hiburan dan daya tarik irama gendang (dogdog : Bahasa Sunda) yang dipukul secara variatif serta dikombinasikan dengan gerak tari lucu dan lirik lagu yang sarat pesan social dan keagamaan.

Walaupun kesenian yang diimport dari barat semakin melimpah namun pada sebagai masyarakat tertentu masih menyukai kesenian reog. Hanya saja pemain dan kelompok organisasinya semakin sulit untuk dijumpai dan kalaupun ada mereka itu biasanya dari kelompok generasi tua. Pertunjukannyapun sudah semakin jarang karena tidak ada atau sangat kurangnya order manggung.

Bahkan ketika hiburan HUT Kemerdekaanpun jarang ada panitia yang menjadualkan kesenian reog karena masyarakat lebih menyenangi dangdut dan band kebarat-baratan.

Kesenian reog biasanya dimainkan oleh empat orang dengan struktur ; seorang dalang, yaitu yang mengendalikan permainan, seorang wakil dalang, dan dua orang lain lagi sebagai pembantu. Dalang memegang gendang atau dogdog yang berukuran 20 cm yang disebut dogdog Tilingtingtit, pembantu dalang memegang gendang yang berukuran 25 cm atau yang disebut Panempas dan pemain ketiga menggunakan dogdog ukuran 30-35 cm dan disebut Bangbrangserta pemain keempat memegang dogdog ukuran 45 cm yang disebut pula Badublag. Pemain ketiga dan keempat biasanya berperan sebagai pelawak sedangkan pemain kesatu dan kedua mengendalikan scenario jalan cerita. Lama permainannya berkisar antara satu sampai satu setengah jam dan untuk pengirinng lagu-lagunya sebagai selingan atau pelengkap adalah para penabuh waditra dengan perlengkapan seperti ; dua buah saron, gendang, rebab, goong, gambang dan lainnya.

Pada perkembangan saat ini salah satu yang mungkin menurunnya kualitas seni reog ialah karena para pemainnya terlalu lama melawak sedangkan memainkan dogdognya hanya sebentar, sehingga muncul sindiran dalam Bahasa Sunda Cul dogdog tinggal igel, artinya dogdognya ditinggalkan (tidak dimainkan) igel (ibing dan melawaknya) yang diutamakan.

Walaupun sudah mulai tersisihkan, masih banyak warga masyarakat yang mengharapkan agar media masa seperti; TVRI, dan Stasiun Televisi swasta menayangkan jenis-jenis kesenian seperti reog ini. Terakhir ini Pemerintah Kota Bandung mengadakan festival Reog se Kota Bandung yang diikuti sekitar 32 grup. Hal ini menandakan masih adanya kesenian Reog di lingkungan masyarakat Sunda khususnya di Kota Bandung.WEB/FEY
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger