' Peran Jumantik Menurunkan Kasus DBD di Tanah Air - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Peran Jumantik Menurunkan Kasus DBD di Tanah Air

Peran Jumantik Menurunkan Kasus DBD di Tanah Air

Written By dodi on Wednesday, June 20, 2012 | 1:16 PM

BANDUNG - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan, dengan semakin banyaknya kader juru pengaman jentik (jumantik), sejak tahun 2012 target menurunkan kasus demam berdarah dengue (DBD) di tanah air pun tercapai. Menurut catatan Kemenkes, dari target 8 kasus per 100 ribu orang, tercapai sebanyak 54 kasus per 100 ribu orang. Hal ini pun

"Alhamdulilah setiap tahun kasus DBD terus menurun. Contohnya Jakarta, peran kader Jumantik dan kesadarannya cukup tinggi, di setiap RT, RW berjalan dengan baik," kata Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kantor Kemenkes, dr Rita Kusriastuti M Sc, kepada wartawan usai membuka kegiatan Kampanye Tangani DBD Melalui Pelatihan Kader Jumantik di Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, Selasa (19/6).

Menurut Rita, selama ini kasus DBD di Indonesia, bisa dikatakan sebagai penyakit tertinggi penyebab kematian. Yakni sekitar 50 ribu kasus, jika dirata-ratakan, angka kematiannya 1% yakni sekitar 500 orang penduduk yang meninggal dunia karena penyakit tersebut.

Namun, sejak 2010 lalu, terjadi penurunan ratio dari 50 ribu kasus angka kematiannya hanya sekitar 100 orang saja atau sekitar 0,9%. "Penurunan kasus di semua wilayah di Indonesia. Sejak Jakarta bagus, ke daerah lainnya juga bagus. Ini semua tidak terlepas dari peran Jumantik di daerahnya masing-masing," ujarnya.

Rita melanjutkan, hal yang paling efektif menekan penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk tersebut, yakni dengan gerakan menguras, menutup dan mengubur (3M), barang-barang, yang bisa menampung air. Seperti menutup bak mandi, botol, kaleng dan lain sebagainya.

"Ini cara yang paling efektif, murah dan berkelanjutan untuk mencegah berkembang biaknya jentik nyamuk. Kalau dengan fogging atau pengasapan, itu hanya membasmi nyamuk dewasa saja, kalau telurnya bisa terus berkembang," terangnya.

Terlebih, sambung Rita, telur nyamuk yang bisa membawa virus aides agypti, chikungunya dan japanise ensapalius tersebut, bisa bertahan dalam keadaan kering antara 6 hingga 1 tahun. Dan, akan kembali hidup jika tempat tersebut digenangi air. "Walaupun saat ini Indonesia dan beberapa negara lainnya tengah mengembangkan vaksin DBD. Tapi tetap cara penanganan yang tetap adalah dengan pencegahan melalui Jumantik," pungkasnya. FER
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger