' Penelitian Situs Megalitik Gunung Padang Dituding Ilegal - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Penelitian Situs Megalitik Gunung Padang Dituding Ilegal

Penelitian Situs Megalitik Gunung Padang Dituding Ilegal

Written By dodi on Wednesday, June 20, 2012 | 2:08 PM

CIANJUR - Rencana penelitian di situs megalitik Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, memantik kontroversi sekaligus menimbulkan polemik di ranah publik. Setelah bermunculan reaksi penolakan terhadap rencana penelitian, kini giliran tim peneliti bentukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur dan tim peneliti independen yang melakukan kegiatan di situs megalitik Gunung Padang, dituding ilegal oleh kalangan pemerhati budaya di Jawa Barat.

Salah satunya, Direktur Lokatmala Institute Eko Wiwit yang menegaskan, setelah kegiatan tim katastropik bentukan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam resmi dihentikan, maka aktivitas penelitian yang dilakukan pihak mana pun di situs tersebut harus dihentikan karena ilegal. "Penelitian yang dilakukan staf presiden saja dihentikan karena melihat kondisi di lapangan. Tapi, ini tiba-tiba bermunculan tim-tim peneliti lain. Ada apa ini sebenarnya," katanya kepada wartawan, Selasa (19/6).

Eko menyebutkan, surat Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam yang ditandatangani Andi Arif bernomor B. 24/SKP-BSP/IV/2012 tertanggal 30 Mei, yang ditembuskan langsung kepada Bupati Cianjur, menunjukkan sikap apresiatif terhadap desakan sejumlah pihak yang tidak menyetujui adanya penelitian. Namun, pihaknya menyayangkan sikap Pemkab Cianjur yang justru membentuk tim peneliti yang belum tentu menguasai ilmu penelitian terhadap cagar budaya.

Namun tudingan itu disanggah oleh Erick Rizky, salah seorang anggota tim terpadu riset mandiri Gunung Padang. Dia pun membantah tegas timnya bekerja secara ilegal. "Kami bekerja secara prosedural dan sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2010 mengenai Cagar Budaya. Kami melibatkan para ahli dalam penelitian ini dan tidak sembarangan," katanya seraya menambahkan, penelitian dilakukan semata untuk membuktikan hasil sejumlah riset dan literatur terdahulu.

Pernyataan Erick itu diamini oleh Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Cianjur Anto Susilo yang mengatakan, tim riset pendamping yang dibentuknya memiliki legalitas kuat berupa surat keputusan Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh. "Selain itu, tim Pemkab Cianjur mempunyai wewenang yang jelas dalam penelitan ini, termasuk menegur dan menghentikan penelitian nantinya apabila dianggap merusak cagar budaya Gunung Padang," tukasnya.

Sebelumnya, pada Senin (18/6) lalu, dalam siaran persnya, kantor Staf Khusus Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial menyebutkan tim riset Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, akan memulai ekskavasi, atau penggalian benda purbakala, di permukaan situs purbakala itu. Tim akan membuktikan hipotesis bahwa ada bangunan kuno buatan manusia di bawah permukaan Gunung Padang. Program ini akan dimulai dengan koordinasi Tim dengan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Arkeologi Nasional serta Bupati Cianjur pada 18 Juni 2012 ini.

Kemudian, pada 20-21 Juni, tim geologi yang dipimpin Dr Danny Hilman akan melakukan survei georadar dan uji sampel dangkal di daerah sasaran ekskavasi. "Seperti diketahui, survei pasca paparan di Krida Bakti 7 Februari 2012 lalu menemukan indikasi adanya obyek sangat penting di lereng timur." Namun obyek ini masih berdasarkan survei georadar satu lintasan dan satu frekuensi (antena). "Untuk lebih memastikan, tim geologi selama dua hari akan survei multilines dengan beberapa jenis antena (frekuensi) berbeda."

Uji sampling dangkal dimaksudkan untuk pengecekan struktur bawah permukaan (hasil survei georadar) dengan sangat cepat dan untuk membantu mengarahkan lokasi trenching (ekskavasi).  Uji sampling  dangkal ini juga bisa untuk meneliti stratigrafi tanah di berbagai lokasi bukit dengan cepat." Setelah itu, baru dilakukan ekskavasi permukaan pada tanggal 23-24 Juni. Ekskavasi ini dilakukan oleh gabungan antara arkeolog yang ditunjuk Arkenas yang dipimpin oleh Dr Bagio Prasetyo dan tim Dr Ali Akbar (arkeolog Universitas Indonesia), juga didampingi tim arsitektur Ir Pon Purjatnika, tim kompleksitas Hokky Situngkir, tim astronomi dari Kementerian Riset dan Teknologi.

"Obyek ekskavasi lokal akan dilakukan di luar situs lereng sisi Timur dan Tenggara yang ditengarai oleh tim geologi ada obyek penting untuk memastikan itu struktur buatan manusia atau bukan di bawah permukaan tanah. Karena itu, tim arkeologi ini akan melakukan koordinasi terakhir sebelum ekskavasi dengan tim Geologi pada tanggal 22 Juni." Tim riset juga menyatakan, pemerintah daerah Cianjur beserta masyarakat bisa melihat langsung proses ekskavasi ini. Jika semua berjalan dengan rencana yang sudah ada maka tim terpadu riset mandiri menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat Cianjur, muspida dan tokoh-tokoh budaya Cianjur atau Jabar dan institusi di pemerintah pusat. RUS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger