' Membudayakan Anti Korupsi Melalui Pendidikan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Membudayakan Anti Korupsi Melalui Pendidikan

Membudayakan Anti Korupsi Melalui Pendidikan

Written By Ginanjar Pradipta on Thursday, May 17, 2012 | 7:08 AM


Pendidikan an i  korupsi akan mulai diberlakukan pada ta-hun ajaran baru 2012/ 2013, Juni mendatang. Pendidikan ani  korupsi ini akan diberlakukan sejak pendidikan dasar sampai perguruan i nggi,  i dak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru dan kepala sekolah serta diintegrasikan dengan pendidikan karakter. Hal ini sesuai kesepakatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Komisi Pemberan-tasan Korupsi (KPK), 9 Maret 2012 lalu. Tujuannya, ingin men-jadikan pendidikan dan kebudayaan sebagai motor pencega-han korupsi melalui proses pembudayaan.
Kerja sama antara Kemendibud dan KPK yang dirini sejak 2010 ini menjadi penanda pen i ng, baik bagi dunia pendidi-kan dan pemberantasan korupsi di Indonesia. Selama ini, ban-yaknya kasus korupsi ternyata dilakukan kaum terdidik yang tak lain adalah lulusan sekolah, madrasah dan perguruan i ng-gi di Indonesia. Para koruptor kehilangan hati  nurani, mereka tidak memiliki nilai integritas yang  tinggi.
Perguruan i nggi pun melupakan hal yang mungkin diang-gap remeh namun membahayakan, yaitu pembentukan in-tegritas pada mahasiswanya untuk menjadi pribadi yang jujur dan an i  korupsi. Karena itu, yang terjadi sekarang ini adalah pribadi yang melupakan ha i  nurani. Krisis karakter yang men-dera kaum terdidik inilah yang menjadi perhai an serius dunia pendidikan di Indonesia saat ini, khususnya terkait integritas kaum terdidik dalam menegakkan keadilan sosial. 
Kaidah keadilan sosial yang dijunjung kaum terdidik mesti  akan mampu menegakkan masa depan yang bermartabat dan berkeadaban. Kaum terdidik yang miskin integritas ini telah menjauh dari tujuan pendidikan, yakni menjadikan peserta didik ‘manusia yang utuh sempurna’ atau ‘manusia purnawan’. Tercapainya kesempurnaaan, menurut Imam Al-Ghazali, ditunjukkan dengan terbentuknya pribadi yang ber-moral atau moral characters, sehingga mampu menjalankan perbuatan yang utama. Pribadi yang bermoral adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kemampuan seperti  itu ada pada hai  nurani yang telah mencapai kedewasaan. Maka, segala usaha yang bertujuan untuk membina hati  nurani mesi  diar-ahkan mempunyai kepekaan dan penghayatan atas nilai-nilai 
yang luhur. Sayangnya, nilai-nilai luhur sekarang ini dimuse-umkan. Yang hadir dalam diri kaum rasional modern justru nalar negai f yang menghadirkan berbagai kejahatan. Kita melihat nalar nega i vis i c bukan hanya berada dalam sikap agresif-destruki f, namun mengarah pada sebagai sesuatu yang melampaui kemungkinan sikap, perilaku, dan pengala-man negai f itu sendiri.
Karena sifatnya “melampaui”, negai vitas selalu men-dorong gelombang kekejaman yang besar dan menjijikkan, mencabik-cabik kehidupan sosial dan disintegrasi jiwa indi-vidu, serta meniscayakan korban-korban massal secara ben-gis, tanpa kompromi sedikit pun. Gelombang kejahatan yang lahir dari negai vitas ini mendorong kekejaman yang massif sehingga teror yang lahir menimbulkan trauma besar yang tragis dan seolah-olah menjadi dentuman ancaman besar dalam peradaban manusia di masa depan. Nalar nega i f  ini 
persis hadir dalam diri para koruptor terdidik yang berdasi.
Agar pendidikan karakter mampu mencipta pribadi-prib-adi yang berintegritas dalam pemberantasan korupsi, maka ingin masuk ke sana, tak lain adalah mewujudkan kurikulum yang berkarakter. Kurikulum adalah jantungnya pendidikan (curriculum is the heart of educa i on). Oleh karena itu, sudah seharusnya kurikulum memberikan perhai an yang lebih be-sar terhadap pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Kurikulum sendiri memiliki makna yang sangat luas, yang kita pahami bahwa kurikulum adalah semua pengalaman yang disediakan oleh lembaga pendidikan bagi peserta didik. Dari sini sangat jelas bahwa kurikulum bukan hanya materi yang diajarkan guru/dosen pada siswa/mahasiswa di kelas saja, namun juga melibatkan semua aspek dalam sekolah/perguruan  i nggi,  seper i  perilaku, baik perilaku guru/dosen terhadap siswa/mahasiswa, siswa/mahasiswa terhadap guru/dosen maupun perilaku stakeholders-nya.
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger