' Masa Depan Produk Organik - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Masa Depan Produk Organik

Masa Depan Produk Organik

Written By Lingkar Jabar On-Line on Saturday, June 2, 2012 | 6:18 AM


BOGOR (LJ) - Semua elemen harus peduli. Begitulah harapan para pengelola produk organik di Kota Bogor, seperti yang disampaikan Dwiko, pengelola Serambi Botani salah satu gerai pruduk-produk Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dipasarkan di Plaza Botani Square, Jalan Pajajaran, Bogor.
Menurutnya, dalam dekade sekarang ini, permintaan pasar terhadap produk-produk organik masih pada konsumen yang penghasilan ekonominya menen-gah ke atas. Maka untuk mendorong agar terjadi produksi massal, ditandai dengan kebutuhan yang meningkat dan kemam-puan membeli yang tinggi. Dari itu perlu kepedulian dari semua pihak. Mulai dari 
pemerintah, pengusaha, petani dan kesa-daran yang tinggi dari konsumen.
“Tapi ke depan saya yakin, kebu-tuhan terhadap produk organik akan bergeser dengan sendirinya. Dari me-nengah ke atas menjadi umum ke semua elemen. Terutama ketika masyarakat se-cara umum sudah mapan ekonominya. Sehingga dalam pilihan penggunaan produk, terutamna makanan, akan berpikir bagaimana mengkonsumsi ma-kanan yang sehat dan tidak sembarang konsumsi,” jelasnya, Selasa (15/5).
Sementara Purnama selaku Consult-ant Partner Serambi Botani, saat bertugas di salah satu gerai yang ada persis pada sisi kanan tangga naik eskalator menuju IPB International Convention Center (IICC) plaza tersebut, menyampaikan bahwa selain di Botani Square, Serambi Botani juga ada di Jakarta, seperti Gan-daria City, Kalibata City Square dan Mall Arta Gading. Satunya lagi ada di Teras Kota Tanggerang. Produk yang dipasar-kan, di antaranya beras organik, madu, obat-obatan herbal, minuman sehat, dan snack organik. Dijual juga personal care meliputi masker, sabun, lulur, scrup dan lainnya yang dibuat dari bahan or-ganik. Dalam pengembangan bisnisnya, Serambi Botani juga melayani pembelian pesanan yang diantar langsung serta pen-jualan produk lewat pameran-pameran.
“Sejauh ini semua produk yang di-pasarkan sangat dicari pembeli. Hanya saja pengalaman kita, para pembeli lebih dominan mencari madu dan obat-obatan herbal,” pungkasnya, sembari menjelas-kan untuk Beras Oraganik jenis Pandan Wangi dari Cipanas dijual Rp 22 ribu/ kilogram, beras hitam yang mengandung anti oksidan dan karbohidrat cukup ren-dah serta bermanfaat bagi penderita dia-betes dihargai Rp 37 ribu/ perkilogramn-ya. Bagaimana perbandingan pertanian konvensional dengan organik, salah satu situs di internet menuliskan, bahwa pertanian konvensioanl memper-cepat pertumbuhan tanaman memakai pupuk yang terbuat dari zat yang diprod-uksi melalui proses kimia. Lalu menggu-nakan insektisida sintetis untuk mengusir 
hama dan penyakit. Memakai herbisida untuk mengatasi rumput liar. Boleh memberi ternak zat antibiotika, hormon pertumbuhan, dan obat-obatan pencegah penyakit dan pemacu pertumbuhan. Seperti pertanian organik, juga memberi ternak diet seimbang dan kandang yang bersih untuk meminimalkan penyakit.
Sedangkan pada pertanian organik menggunakan pupuk alami seperti kom-pos untuk memberi makan tanah dan tanaman. Lalu menggunakan serangga dan burung yang menguntungkan atau memasang perangkap untuk menguran-gi hama dan penyakit. Jika hama sulit dikontrol, baru digunakan pestisida dari bahan alami. Mencabuti rumput liar den-gan tangan. Memberi ternak makanan yang ditumbuhkan secara organik, juga suplemen vitamin dan mineral. Mem-bolehkan ternak jalan-jalan ke luar. 
Memberi pencegahan seperti diet seim-bang, kandang bersih. Ternak organik juga divaksinasi untuk mencegah pen-yakit menular.Tapi, ternyata dalam informasi ter-dahulu dari Timothy H Boyer, profesor Jurusan Fisika City University of  New York seperti dilansir EmaxHealth.com, ternyata tidak semua makanan organik sesehat yang orang dengar.Pada tahun 2002, ilmuwan Swiss di Research Institute for Organic Agri-culture menerbitkan sebuah penelitian. Studi selama 21 tahun membandingkan empat jenis pertanian. Dua di antaranya adalah pertanian organik, dan dua jenis lainnya adalah pertanian konvensional. Hasil yang didapatkan, bahwa per-tanian konvensional 20 persen lebih produktif  daripada pertanian organik. 
Hasil panen secara signifikan lebih ren-dah pada pertanian organik. Fakta dua hal di atas menunjukkan penghematan energi pada pertanian organik, sebenarn-ya hanya sekitar 19 persen per unit tana-man yang diproduksi, bukan 50 persen seperti yang digembar-gemborkan. Per-tanian konvensional dan pertanian or-ganik memiliki manfaat yang sama bagi lingkungan. Keduanya menghasilkan serangga yang menguntungkan, sedikit pestisida dan limbah pupuk dan men-gurangi erosi tanah. Kualitas makanan yang hampir sama dari pertanian kon-vensional dan organik. Para pendukung pertanian organik telah lama mengklaim makanan mereka jauh lebih unggul.
“Studi ini tentu saja tidak menyim-pulkan pertanian organik adalah buruk. Kesimpulannya pertanian organik tidak jauh berbeda dari pertanian konvension-al. Meski ada sebagian alasan lain untuk orang percaya bahwa pertanian organik adalah buruk,” kata Timothy H Boyer.Alex Avery, Direktur Penelitian dan Pendidikan Pusat Institut Hudson un-tuk Isu Pangan Global menjelaskan mengapa hasil pertanian organik lebih rendah dan ketergantungan pada pupuk organik yang langka merupakan anca-man potensial bagi lahan basah di dunia hutan dan padang rumput. 
Menurutnya, pertanian organik tidak menghindari pestisida sebab sekitar 5 persen berat say-uran adalah pestisida alami dan beberapa di antaranya menyebabkan kanker. Dan makanan dari pertanian organik juga leb-ih banyak mengandung bakteri penyebab penyakit.Pada bulan Januari 2007, majalah ‘Consumer Reports’ menunjukkan ayam dari pertanian organik mengandung bak-teri Salmonella 300 persen lebih banyak dari pertanian konvensional. Serta penel-itian universitas juga telah menemukan bakteri yang lebih banyak dalam sayuran dari pertanian organik daripada sayuran dari pertanian konvensional. Q ZIZ
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger