' Limbah Rumah Sakit Bahaya Tak Terdeteksi - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Limbah Rumah Sakit Bahaya Tak Terdeteksi

Limbah Rumah Sakit Bahaya Tak Terdeteksi

Written By dodi on Friday, June 22, 2012 | 3:09 PM

KAB.BANDUNG (LJ) - Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Dari klasifikasi tersebut bisa diartikan bahwa limbah tersebut bisa mengakibatkan beberarapa dampak yang akan dirasakan masyarakat bila kemudian di dalam pengolahannya tidak sesuai dengan aturan.
    Jadi bila dibandingkan dengan kegiatan instansi lain, maka dapat dikatakan bahwa jenis sampah dan limbah rumah sakit dapat dikategorikan kompleks, kata Ketua Lembaga Kajian Tata Ruang Indonesia (LKTRI), Mulyana Abdul Manan, kepada LINGKAR JABAR saat meninjau lokasi Sungai Citarum di Baleendah Kabupaten Bandung, Kamis, 21/6.
    Mulyana Abdul Manan menambahkan, secara umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah atau limbah klinis dan non klinis baik padat maupun cair yang berasal dari kegiatan rumah sakit baik kegiatan medis maupun nonmedis yang kemungkinan besar mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun, dan radioaktif.
    Apabila tidak ditangani dengan baik, limbah rumah sakit dapat menimbulkan masalah baik dari aspek pelayanan maupun estetika selain dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan menjadi sumber penularan penyakit (infeksi nosokomial). Terutama bagi masyarakat yang berdekatan langsung keberadaannya dengan rumah sakit tersebut. Sementara limbah rumah sakit itu terbagi dalam dua klasifikasi, yaitu, 1. Limbah Medis terdiri dari Limbah Padat, Limbah Cair dan Limbah Radioaktif. 2. Limbah Nonmedis terdiri dari Limbah Padat dan Limbah Cair.
    “Limbah padat medis adalah limbah yang langsung dihasilkan dari tindakan diagnosis dan tindakan medis terhadap pasien. Termasuk dalam kegiatan tersebut juga kegiatan medis di ruang poliklinik, perawatan, bedah, kebidanan, otopsi, dan ruang laboratorium. Limbah padat medis sering juga disebut sebagai sampah biologis. Dan itu harus jelas bagaimana cara pengolahannya itu. Jangan sampai sampah atau limbah itu dimanfaatkan orang hanya untuk kepentingan sepihak,” tegas Mulyana.
    Salah satu limbah medis yang dimanfaatkan orang adalah alat suntik yang dijual sekitar Rp. 1.000,-  di sekolah-sekolah. Padahal limbah tersebut belum tentu steril malahan bisa saja terkontaminasi penyakit menular. Sehingga dengan menjual alat itu hampir sama dengan membahayakan generasi muda. Tapi sampai sekarang kenyataan itu tidak pernah ditindaklanjuti.
    Bisa dibayangkan bila Sampah biologis yang terdiri dari ampah medis yang dihasilkan dari ruang poliklinik, ruang perawatan, ruang bedah, atau ruang kebidanan seperti, misalnya, perban, kasa, alat injeksi, ampul, dan botol bekas obat injeksi, kateter, swab, plester, masker, dan sebagainya. Sampah patologis yang dihasilkan dari ruang poliklinik, bedah, kebidanan, atau ruang otopsi, misalnya, plasenta, jaringan organ, anggota badan, dan sebagainya.
    Dan sampah laboratorium yang dihasilkan dari pemeriksaan laboratorium diag-nostik atau penelitian misalnya, sediaan atau media sampel dan bangkai binatang percobaan. Bisa berada ditengah-tengah masyarakat karena kelalaian dari Rumah Sakit dan menjadi bagian kehidupan masyarakat maka akan mengakibatkan berbagai pengaruh kesehatan bagi sekitarnya.
    Seperti limbah infeksius yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular dan limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi. Juga limbah-limbah lainnya yang berkaitan langsung dengan pekerjaan di rumah sakit. Kenyataan ini sebenarnya bisa tertanggulangi dengan baik bila keberadaan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) sesuai dengan kebutuhan begitu juga dengan kapasitasnya.
    Sama halnya dengan Engkos, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Panca, ditempat yang sama, menuturkan, setiap kegiatan memang akan berimbas kepada sesuatu. Namun bila sesuatu itu merupakan lingkungan dan penghuninya jelas hanya akan menciptakan sebuah fenomena psikologis. Dan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab yang namanya limbah walau bagaimanapun bentuknya sangat merugikan bagi kita semua.
    “Apalagi ini limbah rumah sakit yang bisa jadi merupakan sumber penyakit yang bisa mengakibatkan terkontaminasinya sebuah lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. Maka dari itu kami berharap adanya kejelasan dari rumah sakit di dalam pengelolaan limbahnya itu. Jangan karena ketidaktahuan masyarakat dijadikan kesempatan dalam kesempitan dengan berbuat sewenang-wenang,” kata Engkos. GUS




Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger