' Jabar Menjadi Pusat Perekonomian Daerah Lain - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Jabar Menjadi Pusat Perekonomian Daerah Lain

Jabar Menjadi Pusat Perekonomian Daerah Lain

Written By dodi on Monday, June 25, 2012 | 8:00 AM

BOGOR - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Lucky Fathul Azis Hadibrata mengungkapkan aset perbankan di Jawa Barat hingga Mei 2012 telah mencapai Rp300,73 triliun. Pada periode tersebut, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp222,57 triliun dan kredit sebesar Rp175,51 triliun.

"LDR kita juga cukup memuaskan sebesar 78,09%," katanya dalam acara pelatihan wartawan ekonomi di Le Grandeur Hotel, Jakarta, akhir pekan kemarin. Meski pangsa kredit UMKM Jabar mencapai 30,16% dari total kredit, namun Lucky menengaskan kredit macetnya cukup mengkhawatirkan karena mencapai 4,97%. "NPL UMKM harus ditekan, salah satunya dengan pendampingan pelaku melalui P3UKM," ucapnya.

Dari sisi peredaran uang, Lucky memaparkan hingga Mei, inflow mencapai Rp14,06 triliun sedangkan outflow sebesar Rp4,46 triliun. Dari angka tersebut, Real Time Gross Settlement (RTGS) tercatat Rp58,92 triliun sedangkan Kliring sebesar Rp13,35 triliun. "Uang masuk ke Jabar sangat besar karena menjadi pusat perekonomian daerah lain," katanya.

Dalam kesempatan itu, Lucky juga mengemukakan volume kredit perbankan kepada sektor pertanian sudah mencapai Rp4,65 triliun. Jumlah tersebut sekitar 2,65% dari total kredit Jabar yang sebesar Rp175,51 triliun. "Posisi hingga Mei 2012, kredit bagi pertanian mencapai Rp4,65 triliun. Jumlah ini tumbuh 122% dibandingkan kredit bagi pertanian tahun lalu yang hanya Rp2,09 triliun," ujarnya.

Dia menjelaskan, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang dominan dalam perekonomian Jabar. Sektor ini memiliki pangsa pasar hingga 13% dari total PDRB Jabar. "Dari sisi pertumbuhan ekonomi, kinerja pertanian pada triwulan I/2012 mengalami peningkatan sehingga pertumbuhan ekonomi Jabar tetap tinggi sebesar 6,2% meskipun sektor industri pengolahan mengalami perlambatan," tambahnya.

Menurutnya, perspektif perbankan terhadap sektor pertanian membuat alokasi kredit masih rendah. Pasalnya, sektor pertanian masih tergantung musim, tata niaga yang belum tertata serta hasil pertanian yang tergantung musim tanam. Kenyataan tersebut membuat sektor pertanian memiliki resiko tinggi, fluktuasi harga serta mismatch pendanaan dan kredit.

Lebih lanjut Lucky menilai, Lembaga Kredit Mikro (LKM) pertanian untuk UMKM Pertanian akan menjadi solusi. Sebab, lembaga ini memiliki keunggulan, antara lain kemudahan akses, proses cepat, prosedur sederhana. Kemudian, lembaga ini juga memiliki kedekatan dengan budaya setempat, lokasi yang dekat usaha pelaku serta paham terhadap karakteristik petani.

Populasi LKM di Jabar sendiri mencapai 2.269 unit. Jumlah ini berasal dari BPR, BPR Syariah, Baitul Maal wa Tamwil, PDPK, Koperasi Simpan Pinjam, Koperasi Kredit, LKM-Agribisnis, LKM-Sosial, LKM-Program, BKD serta Bumdes.
"Namun, LKM yang banyak menyalurkan kredit pertanian adalah LKM Agro, BKD, KSP dan BPR Syariah," pungkasnya. CPS/FER
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger