' Ical Jadi Capres, Blunder Atau Keputusan yang Tepat? - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Ical Jadi Capres, Blunder Atau Keputusan yang Tepat?

Ical Jadi Capres, Blunder Atau Keputusan yang Tepat?

Written By dodi on Thursday, June 28, 2012 | 8:00 AM

Tanggal 1 Juli di Sentul-Kabupaten Bogor, Partai Golkar telah mengagendakan penetapan Ketua Umumnya, Aburizal Bakrie, sebagai Calon Presiden (Capres). Meski beberapa tokoh senior Golkar yang dikomando Ketua Dewan Pembina Akbar Tanjung terus mempersoalkannya, namun para pengurus daerah partai ini riuh mendukung pencapresan Ical, sapaan akrab sang konglomerat asal Lampung tersebut. Hasil survei pun kian menasbihkan popularitas Ical, maka pemilik Grup Bakrie ini pun melaju kencang seakan tak terbendung oleh siapapun.

Namun, apakah ini Ical sebagai Capres akan menjadi blunder buat Partai Golkar atau sikap Partai Golkar itu yang menjadi blunder buat Ical? Di mata 'pensurvei' Ical pastilah selalu baik. Di kalangan pengurus Partai Golkar di daerah, Ical taklah diragukan kredibilitasnya. Namun itu semua bukanlah jaminan Ical memang baik dan kredibel, tetapi lebih karena sikap royalnya. Ical bloboh (gampang ngeluarin duit) jika itu menyangkut kepentingan politik dan ambisinya.

Dalam bahasa lugas tetapi sarkastis, rata-rata pengurus partai ini di daerah mengatakan, Ical itu harus diangkat-angkat. Dipuji dan diberi masukan yang melangit, agar kesejahteraan selalu datang, dan mesin politik Partai Golkar berjalan. Toh semua paham, partai tanpa pasokan logistik ibarat hidup yang tidak hidup. Namun akibat sikap permisif itu, maka partai ini mengalami banyak kerugian. Kerugian paling besar adalah capnya sebagai partai modern dan demokratis hilang.

Konvensi Golkar yang menjadi kawah candradimuka lahirnya politisi handal partai ini telah raib. Dan transaksional yang melahirkan generasi 'wani piro' (berani bayar berapa) kian tumbuh subur di berbagai daerah. Ingat, tokoh-tokoh politik hebat, seperti Prabowo Subianto, Wiranto, dan yang lain adalah produk konvensi itu. Tiadanya konvensi dalam menjaring Capres itulah yang terus dipersoalkan oleh Akbar Tanjung cs.

Padahal ketika menang di pemilihan Partai Golkar di Pekanbaru Ical punya dua janji besar. Janji pertama adalah kaderisasi di daerah yang mampu menajamkan ujung tombak partai ini. Kedua proyek mercusuar, membangun etalase Partai Golkar di Jakarta, membangun gedung megah, yang minimal setara Gedung Kadin yang dulu dibangun di era kepengurusannya. Namun dua-duanya tandas di tengah jalan. Kaderisasi yang paripurna itu berjalan ala kadarnya. Ikon Partai Golkar yang direncanakan mengangkangi Ibukota tidak terealisasi sampai sekarang. Jangan lagi berharap itu akan menjadi nyata. Dalam bicara-bicara saja, niatan untuk membangun gedung itu sudah tidak kedengaran lagi.

Sebagai pemimpin partai besar, Ical memang layak dicalonkan mewakili partai ini dalam laga merebut posisi orang nomor satu di republik ini. Apalagi dalam teks survei, Ical mengungguli Akbar Tandjung, Fadel Muhammad, Jusuf Kalla (JK) dan Sultan Hamengkubuwono X. Namun meninggalkan konvensi dan menggantinya dengan kebulatan tekad yang mengingatkan era Orde Baru tidaklah elok dilakukan. Toh kalau yakin menang, mengapa tidak melalui konvensi yang melegitimasi Partai Golkar sebagai partai modern dan demokratis?

Apapun cara yang dilakukan Partai Golkar menjaring capresnya, anggap saja Ical yang dipilih. Adakah kansnya menang tinggi jika (prediksi saya) Partai Golkar leading dalam pemilu 2014 nanti? Untuk menjawab ini rasanya masih perlu otak-atik tiga hal. Pertama siapa cawapresnya, partai mana yang menjadi mitra koalisi, dan seberapa intens Ical menghapus 'keburukan-keburukannya'.

'Keburukan' paling besar yang menghambat laju popularitasnya (populer karena kebaikan) adalah kasus Lapindo. Kendati soal lumpur ini secara yuridis bukan tanggungjawabnya, tetapi rakyat, tidak hanya rakyat Sidoarjo melihat, bahwa 'kesengsaraan' itu gara-gara Ical atau sebagai biang-keladi penderitaan itu. Untuk menghapus citra buruk itu, cara paling efektif adalah 'mensurgakan' korban Lapindo. Tanpa itu jangan harap Ical menang dalam pemilu, biarpun didukung cawapres terbaik, dan mitra koalisi partai besar. Sebab Lapindo telah menjadi 'money changer'. Berbagai 'mata uang asing' (partai lain) datang di tempat ini, dan berdagang untuk berbagai kepentingan. Bagaimana dengan massa Partai Golkar yang besar?

Jangan berharap banyak terhadap konstituen partai ini. Jabatan ketum tidak menjamin loyalitas individu. Orang Partai Golkar hanya cinta terhadap partainya. Dia patuh jika untuk kepentingan partai. Dia rela bertarung kalau untuk kebesaran partai. Sedang uang dan jabatan diterima, tanpa jaminan hatinya akan terpana pada pemberinya. Ical harus belajar banyak dari kemenangannya di Munas Pekanbaru, yang jika ditunda seminggu saja, akan mengalahkannya, karena mesin politiknya tidak serapi kandidat yang lain.

Lantas bagaimana peluang Ical kelak? Tinggal kita tunggu maksimal tahun depan. Perubahan sikapnya di detik-detik terakhir sangat menentukan nasibnya. Berhasil tampil sebagai orang nomor satu, atau terpuruk akibat dibuai orang-orang terdekatnya sendiri. Sebab memang itu kelemahan Ical selama ini. Terlebih, uang bukanlah segala-galanya bagi rakyat yang sudah semakin cerdas. Tetapi, kita layak ucapkan selamat berjuang kepada Ical.
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger