' Fenomena Alih Fungsi Lahan di Bandung Jadi "Barang Halal" - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Fenomena Alih Fungsi Lahan di Bandung Jadi "Barang Halal"

Fenomena Alih Fungsi Lahan di Bandung Jadi "Barang Halal"

Written By dodi on Friday, June 22, 2012 | 3:12 PM

KAB.BANDUNG.(LJ) - Fenomena alih fungsi lahan produktif menjadi kawasan bisnis dan perumahan di sebagian wilayah Kabupaten Bandung menjadi "barang halal", hal ini terjadi, sebagai akibat dari kongkalikong antara oknum pejabat pemerintahan dengan pengusaha nakal.
    Sikap semacam ini mengakibatkan semakin tidak bergunanya sebuah perundangan undangan, peraturan pemerintah, Peraturan Daerah, dan Peraturan Bupati. "Padahal, semua perundangan itu dibuat, dengan menghabiskan anggaran sangat besar," demikian Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Penjara) Kabupaten Bandung, Aceng Supriadi, kepada LINGKAR JABAR, kemarin, di Soreang Kabupaten Bandung.
    Efek lainnya kata dia, menyebabkan lemahnya fungsi pengawasan dari pihak legislatif selaku, pola fikir legislatif tidak lagi mementingkan kepentingan masyarakat. Salah satu contoh produk hukum tak terpantau dan terawasi yaitu tentang Peraturan Daerah kabupaten Bandung No. 3 Tahun 2008 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Wilayah tahun 2007 sampai 2027.
    "Akibat tak terpantaunya produk hukum tersebut, maka menyebabkan terjadinya penyalahgunaan peruntukan lahan. Seperti pembangunan kawasan perumahan dan industri, banyak menyita dan menggunakan lahan basah atau pertanian produktif," jelasnya.
    Karena di lokasi ini aksesibilitasnya semakin kondusif untuk pengembangan pemukiman, akhirnya lanjut Aceng Supriadi telah mendorong para investor dan spekulan tanah untuk semakin berani menancapkan kukunya dilokasi tersebut. Bahkan, mereka semakin berani memberikan penawaran yang menggiurkan bagi para petani untuk menjual lahan pertaniannya.
    "Karena harga penawaran mereka sangat menggiurkan,membuat para petani terangsang untuk menjual lahannya. Tak heran, kalau sekarang ini, kita dengan mudahnya menemukan sejumlah lahan-lahan guntai yang secara umum rentan terhadap proses alih fungsi lahan," tegasnya.
    Aceng menambahkan, penyebab alih fungsi lahan pertanian terutama ditentukan oleh lemahnya fungsi kontrol dan pemberlakuan peraturan oleh lembaga terkait. semakin menonjolnya tujuan jangka pendek yaitu memperbesar pendapatan asli daerah (PAD) tanpa mempertimbangkan kelestarian (sustainability) sumberdaya alam di era otonomi.
    "Untuk itu, kami harapkan Komisi A DPRD Kabupaten Bandung dan aparatur Pemkab Bandung untuk turun tangan melakukan sidak kepada para pelaku, serta memberikan sanksi Administrasi dan Pidana," paparnya.
    Sebab menurutnya pula, alih fungsi lahan sawah ke penggunaan non pertanian dapat berdampak terhadap turunnya produksi pertanian, serta akan berdampak pada dimensi yang lebih luas dimana berkaitan dengan aspek-aspek perubahan orientasi ekonomi, sosial, budaya, dan politik masyarakat.
    “Terkonsentrasinya pembangunan perumahan, di satu sisi menambah terbukanya lapangan kerja di sektor nonpertanian, akan tetapi juga menimbulkan dampak negatif yang kurang menguntungkan. Dampak negatif tersebut antara lain Berkurangnya luas sawah yang mengakibatkan turunnya produksi padi, yang mengganggu tercapainya swasembada pangan dan timbulnya kerawanan pangan serta mengakibatkan bergesernya lapangan kerja dari sektor pertanian ke nonpertanian. Apabila tenaga kerja tidak terserap seluruhnya akan meningkatkan angka pengangguran,” ujarnya. 
    Menurutnya, oknum Pemkab Bandung dan pengembang nakal diduga keras telah melanggar Undang Undang No. 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang. Antara pejabat dan pelaku, sama-sama bisa terancam sanksi hukum administrasi dan pidana. Setiap pejabat pemerintah yang berwenang yang menerbitkan izin tidak sesuai dengan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 ayat 7, dipidana dengan pidana paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp500.000.000.(FEN)
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger