' Aturan Tentang Gas Elpiji Masih Abu-abu - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Aturan Tentang Gas Elpiji Masih Abu-abu

Aturan Tentang Gas Elpiji Masih Abu-abu

Written By dodi on Tuesday, June 5, 2012 | 11:45 AM


CIANJUR (LJ)- Extra dropping  pihak Pertamina dalam rangka me-nanggulangi kelangkaan gas elpiji 3  kg disejumlah wilayah Cianjur dalam satu bulan terakhir,tidak mampu membendung derap langkah para spekulan. Bahkan kebijakan pemer-intah soal gas elpiji dianggap masih abu-abu dan tidak jelas. Extra dropping Pertamina ters-beut, tujuannya adalah untuk men-gatasi kelangkaan dan menekan an-gka jual yang sudah menembus Rp25  ribu, khususnya di wilayah Cianjur Selatan. Pemilik agen gas elpiji 3 kg,  Lies Boy mengatakan, extra droping  di 62 titik tersebut dibagi kepada 20 agen yang ada di Cianjur. Namun, pembagiannya tidak merata jumlahn-ya.
“Saya hanya melakukan extra dropping di empat titik, diantaranya di Kecamatan Kadupandak, Cijati dan dua di Kecamatan Cidaun,” kata  Lies Boy, kemarin . Menurutnya,  disetiap lokasi, tiap agen menyalur-kan sebanyak 560 tabung. Sementara  harga jualnya, disesuaikan dengan  Harga Eceran Tertinggi (HET) se-mentara yang dikeluarkan Hiswana  Migas dengan merujuk pada surat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral no 28 Tahun 2008 tentang harga jual eceran LPG 3 kg untuk keperluan rumah tangga dan mikro. Berdasarkan ketentuan, dalam ra-dius 60 km dengan jangkauan 20 kecamatan, harga jual dari agen ke pangkalan mencapai Rp12.750 dan harga jual di pangkalan mencapai  Rp13.650. Sedangkan, harga jual di wilayah radius di atas 60 km, untuk harga jual di agen disesuaikan den-gan jarak tempuh. “Ada 12 kecamatan yang radi-usnya di atas 60 km. Di kecamatan tersebut harga jualnya disesuaikan dengan jarak, tapi ada ketetapannya  dari Hiswana Migas. Harga jual tersebut hingga di pangkalan, mestinya tidak ada yang  lebih dari Rp15.800,” jelasnya. Pihaknya berharap, dengan extra dropping ini, masyarakat tidak lagi  kesulitan untuk mencari gas 3 kg.
Walaupun, sebetulnya jumlah yang ditetapkan oleh pertamina untuk sekali dropping itu kurang. “Harapan kami, jumlahnya sesuai dengan ke-butuhan masyarakat, jangan sampai kurang,” tandasnya.Kelangkaan Gas elpiji 3 kg menu-rut R. Saudin, salah seorang penga-mat ekonomi kepada LINGKAR JABAR, Senin (4/6), mengatakan, kalau dirinya meyakini penyebab kelangkaan gas adalah akibat ulah spekulan yang sengaja menimbun gas tersebut.   Seperti diketahui kebutuhan kon-sumsi gas elpiji untuk wilayah Jawa Barat mencapai Rp77 ribu s/d Rp88 ribu per metric ton perbulan setara dengan 80 juta Kg perbulannya.  Di-katakan Saudin, Putusan Presiden No. 104 tahun 2007 dan Permen ESDM No. 21 tahun 2007 telah melarang konsumsi gas bersubsidi-oleh industry besar serta penimbu-nan diluar batas kewajaran, namun kebijakan tersebut tidak menjelaskan sanksi sehingga tidak bisa menjadi alat dasar penangkapan.  “Aparat Kepolisian terpaksa  mencari peraturan lain yang bisa  mencegah penimbunan dan pelang-garan lainnya, peraturan tentang gas  elpiji bersubsidi itu abu-abu, sehing-ga pelaku penyelewengan tidak bisa  ditindak, dan ini yang dimanfaatkan  oleh oknum spekulan, hingga harga bisa menembus angkat Rp25 ribu un-tuk gas ukuran 3 Kg,”katanya. RUS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger