' Abdurrahman Bin Auf - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Abdurrahman Bin Auf

Abdurrahman Bin Auf

Written By Ginanjar Pradipta on Thursday, May 17, 2012 | 7:04 AM


Abdurrahman bin Auf  termas-uk kelompok delapan yang mula-mula masuk Islam, ter-masuk kelompok sepuluh yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga, termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah (sebagai forma-tur) dalam pemilihan khalifah sesudah Umar bin Khattab,  dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah saw untuk berfatwa di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.
Namanya pada masa jahiliah adalah Abdul Amar keturunan Bani Zuhrah, lahir tahun 580 M dan sete-lah masuk Islam Rasulullah saw me-manggilnya Abdurrahman bin Auf. Abdurrahman bin Auf  masuk Islam sebelum Rasulullah saw mas-uk ke rumah Al-Arqam, yaitu dua hari sesudah Abu Bakar ash Shidiq masuk Islam. Sama halnya dengan kelompok kaum muslimin yang pertama-tama masuk Islam, Abdur-rahman bin Auf  tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy, tetapi dia sabar dan tetap sabar. Pendiriannya teguh dan senantiasa teguh. 
Dia menghindari dari kekeja-man kaum Quraisy, tetapi selalu setia dan patuh membenarkan ris-alah Nabi Muhammad saw. Kemu-dian dia turut pindah (hijrah) ke Habasyah bersama-sama kawan-kawan seiman untuk menyelamat-kan diri dan agama dari tekanan kaum Quraisy yang senantiasa me-nerornya.Tatkala Rasulullah saw. dan para sahabat beliau diijinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman menjadi pelopor bagi orang-orang yang hijrah untuk Allah dan Rasul-Nya. Dalam perantauan, Rasulull-ah mempersaudarakan orang-orang muhajirin dan orang-orang Anshar. 
Maka Abdurrahman bin Auf  diper-saudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ al Anshari. Pada suatu hari Sa’ad berkata kepada saudaranya, Abdur-rahman, “Wahai saudaraku Abdur-rahman! Aku termasuk orang kaya di antara penduduk Madinah. Har-taku banyak. Saya mempunyai dua bidang ke-bun yang luas, dan dua orang pem-bantu. Pilihlah olehmu salah satu di antara kedua kebun itu, kuberikan kepadamu mana yang kamu sukai. 
Begitu pula salah seorang di antara kedua pembantuku, akan kuserah-kan mana yang kamu senangi, ke-mudian aku nikahkan engkau dengan dia.”Jawab Abdurrahman bin Auf, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada Saudara, kepada keluarga Saudara, dan kepada harta Saudara. Saya hanya akan minta tolong kepada Saudara menunjukkan di mana letaknya pasar Madinah ini.” Sa’ad menunjukkan pasar tem-pat berjual beli kepada Abdurrah-man. Maka, mulailah Abdurrah-man berniaga di sana, berjual beli, melaba dan merugi. Belum berapa lama dia berdagang, terkumpullah uangnya sekadar cukup untuk ma-har menikah. Dia datang kepada Rasulullah memakai harum-haru-man. Beliau menyambut kedata-ngan Abdurrahman seraya berkata, “Wah, alangkah wanginya kamu, hai Abdurrahman.”
Kata Abdurrahman, “Saya hen-dak menikah ya Rasulullah.”Tanya Rasulullah, “Apa mahar yang kamu berikan kepada istrimu?”Jawab Abdurrahman, “Emas se-berat biji kurma.”Kata Rasulullah, “Adakan kend-uri, walau hanya dengan menyem-belih seekor kambing. Semoga Al-lah memberkati pernikahanmu dan hartamu.”
Kata Abdurrahman, “Sejak itu dunia datang menghadap kepadaku (hidupku makmur dan bahagia). Hingga seandainya aku angkat se-buah batu, maka dibawahnya kuda-pati emas dan perak.”Dalam Perang Badar, Abdurrah-man turut berjihad fi sabilillah, dan dia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, antara lain Umair bin Utsman bin Ka’ab bin Auf  At Taimy. Dalam Perang Uhud, dia tetap teguh bertahan di samping Rasulullah, ketika tentara muslimin banyak yang meninggalkan medan laga. Ketika selesai perang dan kaum muslimin keluar sebagai pemenang, Abdurrahman mendapatkan hadiah sembilan luka parah menganga di tubuhnya dan dua puluh luka kecil. Walau luka kecil, namun di anta-ranya ada yang sedalam anak jari. 

bersambung ....
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger