' - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...

Written By Lingkar Jabar On-Line on Friday, June 1, 2012 | 11:28 AM

BANDUNG (LJ)  - Kasus dugaan malapraktik oleh dok-ter spesialis di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Band-ung yang dilaporkan eks keyboardis band Peter Pan, Da-vid Albert, pada Senin (14/5) lalu, pihak RSHS Bandung mengaku siap menghadapi laporan dialamatkan pada dr Reno Rudiman ke polisi. Bah-kan, pihak RSHS juga tengah mempertimbangkan untuk melakukan upaya hukum balik. Tudingan David, dini-lai mengarah ke pencemaran nama baik.
“Kami tegaskan tidak ada malapraktik. Dokter sudah dilakukan audit medik, dan tidak ada kelalaian ataupun malapraktik. Semua sudah sesuai prosedur,” ujar kuasa hukum RSHS, Benny Wulur, saat dihubungi wartawan, Se-lasa (15/5). Menurut Benny dengan adanya tudingan-tud-ingan yang dilontarkan David pada dr Reno dan RSHS, ada dugaan pencemaran namabaik. “Ini yang tengah kami pertimbang-kan untuk ambil langkah hukum. Kita li-hat dulu, besok kita akan gelar konfrensi pers,” ujarnya.
Seperti diketahui, Senin siang, David bersama kuasa hukumnya melaporkan dr Reno ke Polrestabes Bandung dengan dugaan kelalaian mengakibatkan luka berat. Dalam laporan David, disebutkan pada Juni 2011 lalu, David dioperasi batu empedu di RSHS oleh dokter bedah inisial dr Reno. Namun setelah operasi, 
David mengalami sakit hebat. Ia pun berobat ke RS Advent, dan diketahui sal-uran empedunya putus. Diduga akibat operasi sebelumnya. David sempat men-galami koma hingga tiga kali.
Sebelumnya David sendiri telah me-layangkan somasi dua kali, yaitu pada tanggal 20 April dan 28 April. Namun rupanya tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak. David pun menun-tut ganti rugi materil Rp 5 miliar. Dan pihak David, melalui kuasa hukumnya--Monang Saragih, juga menyatakan bahwa tidak menutup kemungkinan Da-vid mempolisikan pihak lain dari RSHS Bandung. “Untuk saat ini kami mempi-danakan orang yang berbuat. Tapi bisa saja ini berkembang dengan orang-orang di lingkungan itu (RSHS),” ungkap Mo-nang pada wartawan saat ditemui Ma-polrestabes Bandung. Pihak David, kata Monang, meminta pertanggungjawaban kepada RSHS. Waktu itu, sambung dia, pimpinan RSHS menyebut sepantasnya bertanggung jawab itu ialah orang yang melakukan tindakan operasi. “Berarti kan yang bertanggung jawab itu dokter Reno,” terangnya. Monang men yayang-kan tidak ada itikad baik yang dilontarkan pihak RSHS dan dokter yang diduga lalai melakukan operasi pengangkata batu empedu sehingga membuat David didera derita atau luka berat. Menu-rut Monang, pihak RSHS kekeuh meyatakan tidak ada kelalaian dalam operasi tersebut. Disinggung terkait RSHS yang mengatakan kejadian dialami David itu suatu resiko medis, Monang tetap bersikukuh ada unsur kelalaian. “Ya makanya kami melaporkan kepada polisi untuk dibuktikan. Kami melihat ini ada kelalaian. Betul atau enggak ter-jadi kelalaian, nanti penyidik polisi yang melihat,” tutup Monang.
Sementara itu, Dokter ahli Reno Rudiman mengaku siap meladeni lang-kah hukum yang diambil David Albert. Reno pun bersikukuh apa yang dialami David merupakan risiko medis pasca-operasi. “Iya siap. Sebetulnya apa yang terjadi (pada David-red) itu risiko medis. Bisa terjadi pada semua kasus. Semua dokter bedah memiliki risiko sama, ada di buku ada di jurnal,” ujar dr Reno saat dihubungi wartawan. Saat ditanya apakah ini kali pertama Reno operasi dengan metode laparaskopi? Dia men-jawab, “Begini, ini adalah bidang keahl-ian saya. Saya member Persatuan Bedah Endo-Laparoscopi Indonesia atau PBEI. Jadi ini bukan kasus pertama yang saya operasi. Saya sudah instruktur nasional, sudah sering melakukannya.”  Q FEY
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger